Selasa, 27 September 2011

Menpora: Pramuka Harus Siap di Garis Depan

mudik


26 Agustus 2011
Di sela-sela pidatonya, Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng memberikan dukungan moril pada anggota pramuka yang siap membantu arus mudik lebaran 2011.
“Bagi yang betugas di arus mudik tahun ini harus siap membantu warga yang mudik. Pramuka harus siap di garis depan,” Ujar Andi dalam upacara ‘Pencanangan Aksi Pramuka Peduli Karya Bakti Lebaran 2011′ yang diselenggarakan di stasiun Gambir kamis (25/8/2011).
Andi juga mengatakan tujuan dari diselnggarakan kegiatan ini diperuntukan untuk membina karakter para pemuda-pemudi dalam kegiatan kemanusiaan.
Kegiatan aksi pramuka peduli lebaran ini juga untuk memperingati ke 50 Tahun gerakan pramuka di Indonesia yang jatuh pada tanggal 14 Agustus lalu. (Sumber Berita: http://www.tribunnews.com)

Minggu, 04 September 2011

Film Petualangan Anak-anak “Lima Elang”

Film Petualangan Anak-anak “Lima Elang”


Ketua DKN, Syarifah Alawiyah dengan sejumlah pemain "Lima Elang", berfoto bersama sambil menunggu syutingDi tengah banyaknya keluhan orangtua dan masyarakat umum tentang tayangan sinetron maupun film-film layar lebar yang kurang mendidik, sebentar lagi kerinduan akan film nasional yang menarik, menghibur, dan mengandung nilai-nilai pendidikan bakal terjawab. Film petualangan anak-anak untuk semua umur berjudul “Lima Elang” bakal ditayangkan di bioskop-bioskop di Tanah Air.
“Lima Elang” yang berkisah tentang persahabatan dan petualangan lima anak yang dipertemukan menjelang dan dalam suatu perkemahan besar tingkat Kwartir Daerah, bisa disebut pula sebagai kado ulang tahun dalam rangka memperingati 50 Tahun (Tahun Emas) Gerakan Pramuka. Film itu memang merupakan kerjasama antara Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka dengan SBO Films, suatu perusahaan film yang para pengelolanya telah sukses lewat sejumlah film, termasuk film “Garuda Di Dadaku”.
Bertindak selaku produser adalah Kemal Arsjad dan Salman Aristo. Yang disebut terakhir juga menulis skenario film tersebut. Sedangkan sutradaranya adalah Rudi Soedjarwo, yang sebelumnya telah sukses menelurkan 17 film layar lebar. Bertindak sebagai produser eksekutif adalah sejumlah nama, termasuk Ketua Kwartir Nasional, Prof.Dr.dr Azrul Azwar, MPH.
Setelah melalui proses persiapan cukup lama, selama sebulan penuh pada awal April 2011, dilaksanakan syuting film “Lima Elang” di sejumlah tempat. Dari pihak Kwarnas, juga ditunjuk tim supervisi teknis yang dipimpin Wakil Ketua Kwarnas, Kak Amoroso Katamsi. Sedangkan di lapangan untuk mendampingi tim produksi saat syuting berlangsung, ditunjuk Kak Berthold Sinaulan (Andalan Nasional) selaku kordinator, dengan anggota Kak Yusak Manitis (Staf Kwarnas) dan Kak Syarifah Alawiyah (Ketua Dewan Kerja Nasional).
Kak Berthold dan Kak Yusak bahkan sempat ikut syuting walaupun hanya menjadi extra (figuran), sebagai tamu dari Kwarnas yang diundang menghadiri perkemahan yang diadakan. Bahkan sang tamu akhirnya ikut juga dalam proses pencarian anak hilang. Ada anak hilang? Ya, itulah salah satu menarik dan serunya film tersebut. Nantikan dan tonton saja “Lima Elang” nantinya.
Selama proses syuting, juga cukup banyak kendala yang dihadapi. Hujan deras yang turun berkali-kali, sempat menunda syuting yang hampir sebagian besar dilakukan di alam terbuka. Belum lagi ada juga yang terkena lintah atau terkena daun tumbuhan yang menyebabkan tubuh gatal, seperti di Hutan Buru Kareumbi, yang terletak di perbatasan Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Garut. Untunglah, kekompakan tim produksi, para talent, maupun extra, membuat pelaksanaan syuting tetap dapat diselesaikan pada awal Mei 2011.
Menurut rencana, film tersebut akan ditayangkan pada akhir Agustus 2011. Dan yang pasti, bakal ada satu lagi tontonan menarik dan bermutu di Indonesia. Redaksi KN,  Berthold Sinaulan/Syarifah Alawiyah

Senin, 15 Agustus 2011

Peringatan Hari Pramuka ke-50 Tahun 2011

Peringatan Hari Pramuka ke-50 Tahun 2011

Peringatan Hari Pramuka ke-50 Tahun 2011 atau Tahun Emas Pramuka jatuh pada hari ini, Minggu 14 Agustus 2011. Hari Pramuka tahun 2011 ini memang peringatan Hari Pramuka yang ke-50 sejak saat Presiden RI, Ir. Soekarno menyerahkan panji kepramukaan kepada Gerakan Pramuka pada tanggal 14 Agustus 1961.
Semakin istimewa, peringatan Hari Pramuka ke-50 Tahun 2011 ini juga menandai 100 tahun kepanduan di Indonesia semenjak dibawa oleh Pemerintah Hindia Belanda ke Indonesia pada tahun 1911. Ini kemudian ditandai dengan lahirnya “Nederlandsche Padvinders Organisatie” (NPO) pada tahun 1912 sebagai organisasi kepanduan pertama di Indonesia.
Kepanduan (kepramukaan) sendiri dicetuskan pertama kali oleh Robert Boden Powell seorang letnan jendral angkatan bersenjata Britania Raya pada 1907. Dari Inggris kepramukaan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk ke Belanda. Oleh pemerintah Belanda, kepramukaan diperkenalkan di negara-negara jajahannya termasuk Indonesia.
50 Tahun Pramuka Indonesia. Perkembangan kepramukaan di Indonesia pun melewati sejarah yang panjang. Semenjak pramuka dibawa masuk ke Indonesia pada 100 tahun silam, bangsa Indonesia pun turut mendirikan pramuka. Adalah Mangkunegara VII yang kemudian mendirikan Javaansche Padvinders Organisatie sebagai organisasi kepanduan untuk pribumi. Semenjak itu turut berdiri pula berbagai organisasi kepramukaan di Indonesia semisal Hizbul Wathan (didirikan Muhammadiyah), Nationale Padvinderij (Budi Utomo), Syarikat Islam Afdeling Pandu (SI), Pandu Ansor (NU), Tri Darma (Kristen), Kepanduan Azas Katolik Indonesia (KAKI), Kepanduan Masehi Indonesia (KMI) dll. Hingga setelah kemerdekaan berdiri hingga lebih dari 300-an organisasi kepanduan.
50 tahun silam (1961) timbul semangat untuk menyatukan organisasi kepanduan dalam satu wadah. Melalui perjalanan panjang yang pada 9 Maret 1961 Presiden Soekarno mengumpulkan para tokoh kepanduan untuk membentuk Panitia Persiapan yang diketuai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Hingga pada tanggal 20 Mei 1961 lahirlah Keputusan Presiden RI No. 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan di Indonesia.
Kepres No. 238 Tahun 1961 kemudian mendapat dukungan dari berbagai tokoh kepanduan yang berikrar meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka pada tanggal 30 Juli 1961. Setelah itu, tepat pada tanggal 14 Agustus 1961, Presiden RI menganugerahkan panji-panji Kepramukaan yang dilanjutkan dengan defile dan Apel Besar yang diikuti lebih dari 10 ribu Pramuka di Jakarta.
Moment penganugerahan panji kepramukaan dan apel akbar inilah yang kemudian diperingati setiap tahun oleh para pramuka se-Indonesia sebagai Hari Pramuka. Sehingga tepat pada hari ini, 14 Agustus 2011, diperingatilah Hari Pramuka ke-50.
Tema, Moto, Logo, dan Maskot Hari Pramuka ke-50. Dalam rangka peringatan Hari Pramuka yang ke 50 telah ditetapkan tema, moto, logo, dan maskot Hari Pramuka ke-50 Tahun 2011. Tema peringatan ulang tahun emas Gerakan Pramuka tahun 2011 ini adalah “Pramuka Penyelamat Generasi Muda”.
Moto Hari Pramuka ke-50 yaitu “Satu Pramuka untuk Satu Indonesia; Jayalah Indonesia” yang tertulis melinkar dalam logo Hari Pramuka ke-50 yang berbentuk bulat telur. Logo Hari ulang tahun emas Pramuka itu sebagai berikut:
Logo 50 Tahun Pramuka
Logo 50 Tahun Pramuka
Logo ini mengandung makna bahwa usia 50 Tahun Gerakan Pramuka dalam usia 100 tahun Kepanduan di Indonesia menjadi momentum memperkuat Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi Kepramukaan yang menjadi wadah pembinaan kaum muda menuju kejayaan Indonesia dalam semangat dan jiwa persatuan dan kesatuan. Warna-warnanya melambangkan keberanian (merah), kesucian (putih), kematangan dan kecintaan (ungu), kejayaan (kuning), kekuatan dan keabadian (hitam).
Sedangkan maskot 50 tahun Gerakan Pramuka adalah seekor burung elang jawa (Nisaetus bartelsi) yang diberi nama “Si Jambul”. Warna maskot didominasi oleh warna coklat sebagai warna identitas kepramukaan. Si Jambul memiliki 3 helai bulu pada kepala melambangkan Trisatya (Janji Pramuka), 10 Helai bulu pada sayap melambangkan Dasa Darma (Darma Pramuka), dan 5 helai bulu pada ekor melambangkan Pancasila (Asas Pramuka).
Maskot Hari Pramuka ke 50
Si Jambul, Maskot Hari Pramuka ke 50
Selain tema, moto, maskot, dan logo Hari Pramuka ke-50 Tahun 2011, juga dirilis lagu 50 Tahun Pramuka dengan judul “Jayalah Pramuka”. Lagu ini dapat didownload di sini (MP3; 2,3 MB)
Akhirnya, selamat Hari Pramuka ke-50; dirgahayu Pramuka Indonesia. Satu Pramuka untuk Satu Indonesia, Jayalah Indonesia.

50 tahun GERAKAN PRAMUKA

JAKARTA, KOMPAS.com -  Peringatan Hari Pramuka Indonesia memasuki ulang tahun emas atau 50 tahun pada Minggu (14/8/2011). Peringatan HUT Ke-50 Pramuka Indonesia yang berlangsung sore ini, bakal dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, selaku Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka.  Tema HUT Pramuka Tahun 2011 ini adalah Satu Pramuka untuk Satu Indonesia, Jayalah Indonesia. Adapun sub temanya adalah Pramuka Penyelamat Generasi Muda.  Pada peringatan HUT ke-50 Pramuka kali ini, Presiden SBY memberikan penghargaan dari Gerakan Pramuka berupa Lencana Melati kepada Kepala Kepolisian RI, selaku Ketua Majelis Pembimbing Satuan Karya Pramuka Bhayangkara Tingkat Nasional Jenderal Polisi Drs Timur Pradopo.  Penghargaan serupa juga diberikan kepada Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Lampung Sjachroedin ZP, dan Ketua Komite Pramuka Dunia Simon Rhee Hang Bock.  Penghargaan Lencana Dharma Bakti diserahkan kepda Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Penghargaan Lencana Teladan untuk tahun ini diberikan pada Octavianus Krisanggono Pangeastu Aji, Pramuka Penggalang Garuda Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur.

Senin, 20 Juni 2011

DETIK DETIK KELAHIRAN GERAKAN PRAMUKA



pintu-gerbang-g-pramuka_resize.gif
Latar Belakang Lahirnya Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka lahir pada tahun 1961, jadi kalau akan menyimak latar belakang lahirnya Gerakan Pramuka, orang perlu mengkaji keadaan, kejadian dan peristiwa pada sekitar tahun 1960.
Dari ungkapan yang telah dipaparkan di depan kita lihat bahwa jumlah perkumpulan kepramukaan di Indonesia waktu itu sangat banyak. Jumlah itu tidak sepandan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan itu.
Peraturan yang timbul pada masa perintisan ini adalah Ketetapan MPRS Nomor II/MPRS/1960, tanggal 3 Desember 1960 tentang rencana pembangunan Nasional Semesta Berencana. Dalam ketetapan ini dapat ditemukan Pasal 330. C. yang menyatakan bahwa dasar pendidikan di bidang kepanduan adalah Pancasila. Seterusnya penertiban tentang kepanduan (Pasal 741) dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan dan menyetujui rencana Pemerintah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30). Kemudian kepanduan supaya dibebaskan dari sisa-sisa Lord Baden Powellisme (Lampiran C Ayat 8).
Ketetapan itu memberi kewajiban agar Pemerintah melaksanakannya. Karena itulah Pesiden/Mandataris MPRS pada 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemimpin gerakan kepramukaan Indonesia, bertempat di Istana Negara. Hari Kamis malam itulah Presiden mengungkapkan bahwa kepanduan yang ada harus diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka. Presiden juga menunjuk panitia yang terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr.A. Azis Saleh dan Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa, Achmadi. Panitia ini tentulah perlu sesuatu pengesahan. Dan kemudian terbitlah Keputusan Presiden RI No.112 Tahun 1961 tanggal 5 April 1961, tentang Panitia Pembantu Pelaksana Pembentukan Gerakan Pramuka dengan susunan keanggotaan seperti yang disebut oleh Presiden pada tanggal 9 Maret 1961. Ada perbedaan sebutan atau tugas panitia antara pidato Presiden dengan Keputusan Presiden itu. Masih dalam bulan April itu juga, keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 121 Tahun 1961 tanggal 11 April 1961 tentang Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Anggota Panitia ini terdiri atas Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Prijono, Dr. A. Azis Saleh, Achmadi dan Muljadi Djojo Martono (Menteri Sosial). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai Lampiran Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang Gerakan Pramuka.
Kelahiran Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka ditandai dengan serangkaian peristiwa yang saling berkaitan yaitu 1. Pidato Presiden/Mandataris MPRS dihadapan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA
· Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PERMULAAN TAHUN KERJA.
· Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA.
2. Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai HARI PRAMUKA.
Gerakan Pramuka Diperkenalkan
Pidato Presiden pada tanggal 9 Maret 1961 juga menggariskan agar pada peringatan\ Proklamasi Kemerdekaan RI Gerakan Pramuka telah ada dan dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Keppres RI No.238 Tahun 1961 perlu ada pendukungnya yaitu pengurus dan anggotanya. Menurut Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pimpinan perkumpulan ini dipegang oleh Majelis Pimpinan Nasional (MAPINAS) yang di dalamnya terdapat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Kwartir Nasional Harian. Badan Pimpinan Pusat ini secara simbolis disusun dengan mengambil angka keramat 17-8-’45, yaitu terdiri atas Mapinas beranggotakan 45 orang di antaranya duduk dalam Kwarnas 17 orang dan dalam Kwarnasri 8 orang. Namun demikian dalam realisasinya seperti tersebut dalam Keppres RI No.447 Tahun 1961, tanggal 14 Agustus 1961 jumlah anggota Mapinas menjadi 70 orang dengan rincian dari 70 anggota itu 17 orang di antaranya sebagai anggota Kwarnas dan 8 orang di antara anggota Kwarnas ini menjadi anggota Kwarnari.
Mapinas diketuai oleh Dr. Ir. Soekarno, Presiden RI dengan Wakil Ketua I, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Ketua II Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh.
Sementara itu dalam Kwarnas, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat Ketua dan Brigjen TNI Dr.A. Aziz Saleh sebagai Wakil Ketua merangkap Ketua Kwarnari.
Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1961 bukan saja di Ibukota Jakarta, tapi juga di tempat yang
penting di Indonesia. Di Jakarta sekitar 10.000 anggota Gerakan Pramuka mengadakan Apel Besar yang diikuti dengan pawai pembangunan dan defile di depan
Presiden dan berkeliling Jakarta. Sebelum kegiatan pawai/defile, Presiden melantik anggota Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari, di Istana negara, dan menyampaikan anugerah tanda penghargaan dan kehormatan berupa Panji Gerakan Kepanduan Nasional Indonesia (Keppres No.448 Tahun 1961) yang diterimakan kepada Ketua Kwartir Nasional, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sesaat sebelum pawai/defile dimulai. Peristiwa perkenalan tanggal 14 Agustus 1961 ini kemudian dilakukan sebagai HARI PRAMUKA yang setiap tahun diperingati oleh seluruh jajaran dan anggota Gerakan Pramuka